Warning: Undefined variable $args in /home/ifaa8831/public_html/djakartanetwork.com/wp-content/themes/wpnews/inc/shortcode-bacajuga.php on line 56
JAKARTA, djakartanetwork.com — Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak hanya membuka peluang di industri teknologi, tetapi juga meningkatkan perhatian investor terhadap aset fisik. Kebutuhan pusat data, pasokan listrik, dan infrastruktur digital dinilai menjadi faktor yang dapat menopang prospek investasi pada 2027.
Dalam laporan yang dikutip Investing.com, UBS menyatakan preferensinya terhadap aset riil, terutama komoditas, infrastruktur, dan properti. Ketiga sektor tersebut dinilai memiliki peluang seiring meningkatnya kebutuhan energi dan fasilitas pendukung pertumbuhan ekonomi digital.
Aset riil merupakan aset berwujud yang memiliki nilai ekonomi dari karakteristik fisik maupun kegunaannya. Kelompok ini mencakup properti, jaringan listrik, infrastruktur digital, serta berbagai komoditas seperti energi, logam, dan produk pertanian.
Ekspansi AI tingkatkan kebutuhan energi
Pertumbuhan penggunaan AI mendorong kebutuhan terhadap pusat data dengan kapasitas komputasi besar. Fasilitas tersebut membutuhkan pasokan listrik yang memadai, sistem pendukung operasional, serta infrastruktur jaringan yang mampu menunjang pemrosesan data dalam skala tinggi.
Kondisi itu menempatkan sektor ketenagalistrikan dan infrastruktur digital sebagai bagian penting dalam pengembangan ekonomi berbasis teknologi. Peningkatan kebutuhan tersebut juga berpotensi mendorong investasi pada kapasitas industri dan komoditas yang digunakan dalam pembangunan fasilitas pendukung.
UBS turut menyoroti elektrifikasi, ketahanan energi, dan penataan ulang rantai pasok sebagai faktor yang dapat memperkuat belanja infrastruktur. Perubahan tersebut berpotensi menciptakan permintaan tambahan terhadap energi, logam, serta berbagai kebutuhan industri.
Meski demikian, besarnya peluang di sektor tersebut tetap bergantung pada realisasi investasi, ketersediaan pasokan, biaya pembangunan, dan perkembangan permintaan energi.
Pasar properti menghadapi keterbatasan pasokan
Selain infrastruktur dan komoditas, properti menjadi sektor lain yang diperhatikan UBS. Penurunan aktivitas pembangunan di sejumlah segmen dinilai dapat membatasi pasokan baru pada masa mendatang.
Dalam kondisi tersebut, pusat data, hunian bagi warga lanjut usia, apartemen multikeluarga, dan perkantoran berkualitas tinggi disebut memiliki prospek yang menarik. Terbatasnya pembangunan baru berpotensi mendukung harga jual maupun tarif sewa apabila permintaan tetap terjaga.
Namun, prospek setiap segmen properti tidak selalu sama. Lokasi, tingkat okupansi, biaya pembiayaan, serta kemampuan penyewa membayar akan tetap memengaruhi kinerja investasi.
Pandangan UBS tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dapat menciptakan peluang di luar perusahaan pembuat perangkat lunak atau produsen cip. Infrastruktur fisik yang menopang operasional AI juga berpotensi menjadi bagian dari perhatian investor dalam beberapa tahun mendatang.
Bagi investor, peluang itu tetap perlu diukur berdasarkan valuasi aset, risiko pasar, dan kemampuan menghasilkan pendapatan. Preferensi terhadap aset riil merupakan pandangan investasi, bukan jaminan bahwa harga seluruh komoditas, properti, maupun instrumen terkait infrastruktur akan meningkat. (SH)


