Armada Alaska Airlines, maskapai asal Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)
CHICAGO, djakartanetwork.com – Tekanan biaya bahan bakar mulai memengaruhi strategi bisnis Alaska Air Group. Maskapai asal Amerika Serikat tersebut berencana menghapus sekitar 200 posisi pekerjaan nonkontrak setelah kenaikan harga bahan bakar dan ketidakpastian geopolitik membebani kinerja keuangan perusahaan.
Keputusan pengurangan tenaga kerja itu diumumkan pada Jumat (30/10/2026). Manajemen memperkirakan perusahaan berpotensi mengalami kerugian hingga US$700 juta sepanjang tahun ini apabila kondisi pasar tidak menunjukkan perbaikan.
Chief Executive Officer Alaska Air, Ben Minicucci, mengungkapkan proyeksi tersebut melalui memo internal yang disampaikan kepada karyawan. Jika terealisasi, kerugian sebelum pajak yang telah disesuaikan itu akan menjadi yang pertama dialami perusahaan di luar masa pandemi sejak 2003.
Kenaikan harga bahan bakar yang berkaitan dengan ketegangan geopolitik, termasuk konflik Iran, menjadi salah satu faktor yang memperberat beban operasional maskapai. Kondisi tersebut turut mendorong sejumlah perusahaan penerbangan Amerika Serikat menyesuaikan tarif tiket dan membatasi ekspansi jadwal penerbangan.
Alaska Air juga menghadapi tantangan ketika tengah menjalankan strategi pengembangan bisnis ke segmen penerbangan premium dan pasar internasional. Pertumbuhan pendapatan yang dicatat perusahaan belum cukup untuk mengimbangi peningkatan biaya bahan bakar.
Langkah penghapusan sekitar 200 posisi pekerjaan menjadi bagian dari upaya perusahaan menghadapi tekanan finansial tersebut. Posisi yang terdampak merupakan pekerjaan nonkontrak, meskipun rincian unit kerja yang akan mengalami pengurangan belum dijelaskan dalam laporan Reuters.
Situasi ini mencerminkan besarnya pengaruh harga energi terhadap industri penerbangan. Ketika biaya bahan bakar meningkat, maskapai tidak hanya menghadapi tekanan pada margin keuntungan, tetapi juga harus mengevaluasi kembali kebutuhan tenaga kerja, tarif perjalanan, serta rencana pengembangan jaringan penerbangan.
Perkembangan selanjutnya akan menjadi penentu bagi Alaska Air dalam menjaga stabilitas keuangan sekaligus mempertahankan agenda ekspansi bisnisnya di tengah ketidakpastian pasar global. (SH)


