JAKARTA, djakartanetwork.com – Mata uang euro melanjutkan tren positif dengan mencatat kenaikan selama empat sesi perdagangan berturut-turut hingga Kamis (5/11/2026). Penguatan tersebut mendapat dukungan dari penurunan harga energi serta harapan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Reuters melaporkan, euro menguat 0,16 persen ke level US$1,1268. Dalam perdagangan sebelumnya, mata uang kawasan Eropa itu sempat menyentuh US$1,1273, posisi tertinggi sejak 6 Oktober.
Penurunan harga energi menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan euro. Kondisi tersebut muncul di tengah harapan bahwa risiko eskalasi konflik Iran dapat berkurang setelah Partai Republik kehilangan kendali atas Kongres Amerika Serikat dalam pemilu sela.
Meredanya konflik berpotensi membuka kembali jalur distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah yang selama ini terganggu akibat perang. Pemulihan pasokan energi tersebut dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap pasar global.
Meski demikian, prospek hubungan Washington dan Teheran masih dibayangi ketidakpastian. Citi menilai terdapat kekhawatiran bahwa pemerintahan Gedung Putih masih berpeluang meningkatkan ketegangan dengan Iran meskipun hasil pemilu sela telah diketahui.
Di sisi politik Amerika Serikat, Partai Demokrat berhasil menguasai mayoritas kursi di Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat. Hasil tersebut turut mendorong penguatan obligasi pemerintah AS atau US Treasury serta pasar saham global.
Namun, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan Kongres baru, khususnya terkait dukungan terhadap industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Perkembangan politik AS, dinamika konflik Timur Tengah, serta pergerakan harga energi menjadi sejumlah faktor yang terus diperhatikan investor dalam membaca arah pasar mata uang global. (SH)


