SAN DIEGO, djakartanetwork.com – Qualcomm menghadapi tekanan pada bisnis utamanya setelah pendapatan dari segmen chip telepon seluler turun 26 persen pada kuartal keempat tahun fiskal 2026. Penurunan tersebut terjadi di tengah melemahnya permintaan smartphone global dan meningkatnya biaya komponen semikonduktor.

Dalam laporan keuangan yang diumumkan pada Rabu (4/11/2026), pendapatan Qualcomm dari segmen handset tercatat sebesar US$5,14 miliar. Angka itu turun dari US$6,96 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya dan berada di bawah perkiraan analis sebesar US$5,25 miliar.

Kondisi tersebut turut membayangi kinerja keuangan perusahaan. Pendapatan disesuaikan Qualcomm mencapai US$10,44 miliar, melampaui perkiraan analis sebesar US$10,12 miliar. Sementara laba per saham yang disesuaikan tercatat US$2,17, sedikit di atas proyeksi US$2,16.

Meski mampu melampaui estimasi laba dan pendapatan, tekanan pada bisnis ponsel membuat saham Qualcomm sempat melemah sekitar 3 persen sebagaimana dilaporkan Investing.com.

Persoalan lain datang dari kenaikan biaya input industri semikonduktor. Qualcomm menyebut peningkatan biaya terjadi pada proses fabrikasi wafer, perakitan, pengujian, pengemasan canggih, hingga komponen memori.

Perusahaan menyatakan mulai menyesuaikan harga produk untuk mengimbangi kenaikan biaya tersebut. Namun, dampak positif dari penyesuaian harga diperkirakan baru akan terasa secara penuh terhadap margin bisnis chip pada paruh kedua tahun fiskal 2027.

Di tengah tekanan pasar smartphone, Qualcomm masih mencatat pertumbuhan pada sejumlah lini bisnis lainnya. Pendapatan segmen otomotif meningkat 89 persen menjadi US$1,99 miliar, sedangkan bisnis Internet of Things (IoT) tumbuh 4 persen menjadi US$1,89 miliar.

Untuk kuartal pertama tahun fiskal 2027, Qualcomm memperkirakan pendapatan berada pada kisaran US$10,4 miliar hingga US$11,2 miliar. Perusahaan juga mempertahankan target pendapatan bisnis pusat data sebesar US$5 miliar sepanjang tahun fiskal 2027.

Presiden dan CEO Qualcomm Cristiano Amon menyebut tahun fiskal 2027 sebagai momentum peningkatan kontribusi bisnis di luar segmen handset, termasuk pengembangan bisnis pusat data.

Perkembangan tersebut menunjukkan Qualcomm tengah memperluas sumber pendapatan di tengah perubahan industri teknologi. Meski demikian, bisnis chip smartphone masih menjadi salah satu penopang utama perusahaan di tengah persaingan dan tekanan biaya produksi. (SH)