BEIJING, djakartanetwork.com – Komitmen perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China senilai US$17 miliar per tahun mulai menghadapi ujian. Pembelian produk pertanian AS oleh Beijing, di luar komoditas kedelai, justru menunjukkan perlambatan sepanjang tahun ini.
Analisis Reuters terhadap data kepabeanan mengungkapkan, nilai impor produk pertanian AS oleh China selain kedelai hanya mencapai US$7,2 miliar selama Januari hingga September 2026.
Angka tersebut menjadi yang terendah untuk periode yang sama sejak 2019, ketika ketegangan perang dagang antara Washington dan Beijing mencapai puncaknya.
Padahal, pada Mei lalu Gedung Putih menyatakan China telah menyepakati pembelian produk pertanian AS senilai US$17 miliar setiap tahun mulai 2026. Target pembelian tahun ini bahkan disebut menjadi prioritas dalam kesepakatan tersebut.
Komitmen itu melanjutkan kesepakatan yang dibuat pada Oktober tahun lalu, ketika Beijing menyatakan kesediaannya untuk meningkatkan pembelian kedelai dari AS.
Namun, perkembangan impor menunjukkan adanya perbedaan antara realisasi pembelian kedelai dan komoditas pertanian lainnya. China diperkirakan masih berada di jalur untuk memenuhi target pembelian kedelai, sementara impor komoditas lain, termasuk daging dan jagung, justru mengalami pelemahan.
Kondisi tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi pelaksanaan kesepakatan dagang kedua negara. Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah Beijing telah melanggar komitmen yang disepakati.
Perlambatan pembelian ini menjadi perhatian bagi sektor pertanian AS yang mengandalkan pasar China sebagai salah satu tujuan ekspor utama. Ketidakpastian realisasi kesepakatan juga berpotensi menambah tekanan terhadap hubungan perdagangan dua kekuatan ekonomi dunia tersebut. (SH)



