LONDON, djakartanetwork.com – Pasar minyak dunia mulai memperlihatkan perubahan arah. Setelah sempat dibayangi gangguan pasokan akibat perang Iran, kini muncul indikasi kelebihan stok seiring melemahnya permintaan dan mulai pulihnya produksi minyak dari sejumlah kawasan.

Laporan Reuters, Jumat (6/11/2026), menyebutkan tingginya harga minyak telah mendorong sejumlah analis dan pelaku pasar melihat potensi kembalinya kondisi surplus. Situasi ini terjadi meskipun konflik Iran belum menemukan penyelesaian dan masih mengganggu ekspor energi dari Timur Tengah.

Pada awal 2026, pasar sebenarnya telah memperkirakan adanya kelebihan pasokan minyak. Namun, pecahnya perang Iran pada akhir Februari mengubah proyeksi tersebut. Gangguan ekspor dari Timur Tengah bahkan disebut Badan Energi Internasional (IEA) sebagai salah satu disrupsi pasokan terbesar yang pernah terjadi.

Dampaknya, perkiraan surplus berbalik menjadi kekhawatiran terhadap ketersediaan minyak global. Pasokan dari kawasan Timur Tengah yang terganggu membuat keseimbangan pasar berubah secara signifikan.

Kini, situasinya mulai bergerak ke arah berbeda. Sejumlah bank dan lembaga pemerintah memangkas proyeksi permintaan minyak global sepanjang 2026, terutama karena harga yang tinggi menekan konsumsi.

Di sisi lain, pemulihan aliran minyak dari Timur Tengah serta peningkatan produksi negara-negara lain mulai menambah ketersediaan pasokan. Kombinasi antara permintaan yang melemah dan pasokan yang meningkat membuat pasar kembali bergerak menuju keseimbangan surplus.

JPMorgan juga menilai pasar minyak telah kembali memasuki kondisi surplus. Perkembangan ini menjadi perhatian pelaku industri energi karena perubahan keseimbangan pasokan dan permintaan dapat memengaruhi arah harga minyak dalam perdagangan global.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa gangguan pasokan bukan satu-satunya faktor penentu pasar energi. Tingginya harga yang menekan permintaan, bersamaan dengan pemulihan produksi, kini menjadi tantangan baru bagi pasar minyak dunia. (SH)