JAKARTA, djakartanetwork.com — Harga minyak mentah dunia menguat tajam pada perdagangan Kamis (22/10/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat turut menopang kenaikan harga komoditas energi tersebut.

Mengacu pada laporan Investing.com, harga minyak mentah Brent naik 3,4 persen menjadi US$112,47 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 2,6 persen ke level US$99,66 per barel pada pukul 05.40 waktu setempat AS atau 09.40 GMT.

Pergerakan tersebut mencerminkan meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap kemungkinan terganggunya distribusi energi apabila konflik di kawasan Timur Tengah kembali meluas.

Sentimen pasar juga dipengaruhi laporan The New York Times mengenai kemungkinan Amerika Serikat dan Israel meningkatkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang. Laporan itu menyebut infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran termasuk dalam sasaran yang dibahas.

Persiapan militer kedua negara disebut semakin intensif. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga dilaporkan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada pekan tersebut untuk membicarakan sejumlah opsi.

Informasi tersebut masih berupa laporan mengenai rencana yang dipertimbangkan, bukan konfirmasi bahwa serangan baru telah dilaksanakan.

Di pasar energi, perkembangan geopolitik menjadi perhatian karena gangguan terhadap fasilitas produksi, jalur pelayaran, maupun distribusi minyak dapat memperketat pasokan global. Ketidakpastian semacam ini juga berpotensi meningkatkan volatilitas harga di pasar berjangka.

Selain risiko geopolitik, penurunan persediaan minyak mentah AS memberikan dukungan tambahan terhadap harga. Ketika stok menyusut, pasar dapat menilai ketersediaan minyak menjadi lebih ketat, meskipun besarnya dampak tetap bergantung pada kondisi permintaan dan pasokan secara keseluruhan.

Kenaikan harga minyak berpotensi membawa konsekuensi lebih luas bagi perekonomian dunia. Jika berlangsung dalam waktu lama, biaya energi yang lebih tinggi dapat menambah beban industri, transportasi, dan distribusi barang, sekaligus meningkatkan tekanan inflasi.

Bagi negara pengimpor energi, perkembangan harga minyak global menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi biaya impor dan kebutuhan pengelolaan energi nasional.

Dengan ketegangan kawasan yang belum mereda, arah harga minyak selanjutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan situasi geopolitik, kondisi persediaan, serta kepastian kelancaran pasokan ke pasar internasional. (SH)