JAKARTA, djakartanetwork.com – Harga minyak mentah Brent melonjak 2,78% menjadi US$111,84 per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik terkait Iran. Namun, kenaikan energi tersebut beriringan dengan pelemahan bursa saham Eropa pada perdagangan Kamis (22/10/2026), ketika penurunan harga logam menekan sektor pertambangan.
Mengutip laporan Investing.com, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 1,67% ke level US$98,77 per barel. Pergerakan harga energi ini terjadi setelah Iran mengancam memperluas serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat.
Perkembangan tersebut meningkatkan perhatian pelaku pasar terhadap risiko geopolitik dan kemungkinan dampaknya terhadap pasokan energi global. Kenaikan harga minyak juga menjadi faktor yang perlu dicermati karena dapat menambah tekanan inflasi apabila berlangsung dalam waktu lama.
Di pasar saham, indeks FTSE 100 Inggris turun 0,26%. Indeks DAX Jerman melemah 1,04%, sedangkan CAC 40 Prancis terkoreksi 1,4%.
Tekanan pasar turut terlihat pada perdagangan logam. Harga perak spot merosot 5,04%, tembaga Amerika Serikat turun 2,74%, platinum melemah 3,26%, dan paladium terkoreksi 2,81%.
Di London, harga tembaga turun 1,98%. Sementara itu, seng melemah 2,02%, nikel turun 1,62%, dan aluminium terkoreksi 0,89%.
Pelemahan berbagai komoditas tersebut membebani saham perusahaan pertambangan yang sensitif terhadap perubahan harga jual hasil produksi. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menekan indeks saham Inggris pada perdagangan tersebut.
Harga emas juga bergerak turun di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi. Emas berjangka melemah 2,09% menjadi US$4.063,37 per ons, sedangkan harga emas spot turun 2,26% ke level US$4.047,78 per ons.
Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga. Perubahan ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor dalam menentukan posisi investasi pada aset logam mulia.
Sementara itu, pound sterling relatif stabil di level US$1,3391.
Pergerakan pasar pada Kamis menunjukkan bahwa kenaikan harga energi tidak serta-merta mendorong penguatan seluruh aset keuangan. Saham pertambangan menghadapi tekanan dari pelemahan logam, sedangkan kenaikan minyak menambah perhatian investor terhadap risiko inflasi dan perkembangan geopolitik.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati perkembangan ketegangan di Timur Tengah serta pergerakan harga komoditas untuk menilai dampaknya terhadap pasar keuangan global. (SH)



