JAKARTA, djakartanetwork.com — Harga gas alam Amerika Serikat menghadapi tekanan jual kuat pada perdagangan 22 Oktober 2026. Berdasarkan analisis teknikal Investing.com, harga berada di level US$2,765, mendekati area support penting yang berpotensi menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Dalam pembaruan yang tercantum pada pukul 07.10 UTC, harga gas alam dilaporkan mengalami tren penurunan selama lima jam. Posisi tersebut hanya sedikit di atas level support, sehingga pelaku pasar perlu mencermati kemungkinan penurunan lanjutan apabila batas teknikal itu gagal dipertahankan.
Investing.com menyebut level US$2,616 sebagai sasaran penurunan berikutnya jika tekanan jual terus berlanjut dan harga menembus support saat ini.
Meski demikian, peluang terjadinya pemulihan jangka pendek belum sepenuhnya tertutup. Indikator Relative Strength Index (RSI) tercatat sebesar 19,69, yang menunjukkan kondisi jenuh jual atau oversold.
Dalam analisis teknikal, kondisi tersebut dapat membuka peluang terjadinya pantulan harga setelah penurunan tajam. Namun, sinyal jenuh jual tidak otomatis menandakan tren penurunan telah berakhir. Harga masih berpotensi melemah apabila tekanan jual tetap dominan.
Harga gas alam juga berada di sekitar level retracement Fibonacci 78,6 persen. Area ini menjadi salah satu titik yang diperhatikan pelaku pasar untuk menilai kekuatan harga dalam menghadapi tekanan jual.
Sementara itu, pola candlestick Bearish Marubozu yang disebut dalam analisis tersebut mengindikasikan dominasi penjual. Kombinasi tekanan harga dan indikator teknikal tersebut menunjukkan pasar masih berada dalam fase yang rentan terhadap pelemahan lanjutan.
Pergerakan selanjutnya akan bergantung pada kemampuan harga bertahan di sekitar US$2,765. Jika level tersebut mampu dipertahankan, peluang pemulihan teknikal masih terbuka. Sebaliknya, penembusan ke bawah dapat meningkatkan risiko penurunan menuju US$2,616.
Meski indikator teknikal memberikan gambaran mengenai arah pergerakan jangka pendek, perkembangan harga gas alam tetap perlu dicermati bersama faktor fundamental, termasuk kondisi pasokan, permintaan, cuaca, dan kebutuhan energi.
Data dalam pemberitaan ini merujuk pada tangkapan layar analisis Investing.com bertanggal 22 Oktober 2026 dan bukan merupakan konfirmasi harga pasar terkini secara independen. (AP)


