NEW DELHI, djakartanetwork.com — Nama Cockroach Movement atau Gerakan Kecoak menjadi perhatian di ibu kota India, New Delhi, Jumat (16/10/2026). Gerakan politik yang berawal dari kampanye satire di internet itu berkembang menjadi aksi protes yang diwarnai pengetatan pengamanan, penahanan sejumlah aktivis, serta tuntutan terhadap pimpinan lembaga penyelenggara pemilu India.

Aksi tersebut berpusat di kawasan Central Park, Connaught Place, salah satu titik keramaian di New Delhi. Kepolisian setempat memperingatkan masyarakat mengenai potensi gangguan lalu lintas dan memberlakukan pengaturan arus kendaraan di sejumlah ruas jalan sekitar lokasi demonstrasi.

Peringatan lalu lintas itu menjadi bagian dari langkah pengamanan menjelang aksi yang dijadwalkan berlangsung pada sore hari waktu setempat. Polisi juga memasang barikade dan meningkatkan pemantauan di kawasan pusat kota.

Namun, perhatian terhadap Gerakan Kecoak tidak semata-mata berkaitan dengan dampak demonstrasi terhadap aktivitas warga. Gerakan ini juga membawa tuntutan politik yang menyasar Ketua Komisi Pemilihan Umum India, Gyanesh Kumar.

Para pengunjuk rasa mendesak Kumar mengundurkan diri. Mereka mempersoalkan proses revisi daftar pemilih yang menurut laporan media internasional telah menghapus lebih dari 130 juta nama dari daftar pemilih.

Di sisi lain, Komisi Pemilihan Umum India membantah tuduhan keberpihakan. Lembaga tersebut menyatakan revisi dilakukan untuk menghapus data pemilih ganda serta nama-nama yang tidak lagi memenuhi persyaratan.

Perbedaan pandangan tersebut menjadi salah satu latar belakang ketegangan antara kelompok demonstran dan otoritas terkait.

Gerakan Kecoak dilaporkan berawal dari kampanye satire di internet pada musim panas 2026. Dalam perkembangannya, gerakan tersebut membentuk wadah politik bernama Cockroach Janta Party (CJP) dan memperluas aktivitasnya ke ruang publik.

Aksi pada Jumat itu mengusung agenda Lehra Do Tiranga, yang secara harfiah berarti mengibarkan bendera nasional India. Simbol bendera nasional digunakan dalam aksi tersebut di tengah tuntutan terhadap penyelenggaraan pemilu.

Pendiri gerakan, Abhijeet Dipke, dan aktivis mahasiswa Neha Bora termasuk di antara orang-orang yang dilaporkan ditahan polisi terkait rangkaian aksi tersebut.

Penahanan aktivis menjadi bagian lain yang menyita perhatian dalam perkembangan demonstrasi. Meski demikian, alasan hukum dan proses penanganan masing-masing orang perlu merujuk pada keterangan resmi kepolisian serta dokumen terkait.

Kepolisian Delhi juga mengumumkan potensi pembatasan lalu lintas di sejumlah ruas jalan sekitar Connaught Place. Kawasan tersebut merupakan salah satu pusat kegiatan bisnis, perbelanjaan, dan pergerakan masyarakat di ibu kota India.

Pengendara diminta memperhitungkan waktu perjalanan, mengikuti arahan petugas, serta mempertimbangkan penggunaan transportasi umum untuk menghindari titik-titik yang terdampak.

Central Park juga dilaporkan ditutup pada 16–17 Oktober dengan alasan administratif. Penutupan tersebut berlangsung bersamaan dengan rangkaian kegiatan demonstrasi dan pengamanan di kawasan itu.

Laporan media internasional mengenai aksi tersebut menyebutkan adanya demonstran yang berkumpul di beberapa titik sekitar Central Park. Jumlah massa yang dilaporkan berbeda antara satu media dan media lainnya sehingga angka pasti kehadiran peserta perlu disikapi secara hati-hati.

Perkembangan Gerakan Kecoak memperlihatkan bagaimana kampanye yang berawal dari ruang digital dapat berkembang menjadi mobilisasi di jalanan dan membawa tuntutan terhadap institusi publik.

Bagi New Delhi, dampak langsungnya terlihat pada pengamanan pusat kota dan pengaturan lalu lintas. Sementara itu, tuntutan para demonstran terhadap pimpinan penyelenggara pemilu menempatkan isu kepercayaan publik terhadap proses pemilu sebagai salah satu persoalan utama dalam aksi tersebut. (SH/Ist)