TEHERAN, djakartanetwork.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi perhatian setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, memerintahkan jajaran militer memperbarui daftar target potensial yang berkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Instruksi tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran akan berlanjutnya konflik bersenjata di kawasan Teluk. Khamenei meminta Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Angkatan Darat, dan Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan serangan baru.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui akun Telegram resminya pada Sabtu (31/10/2026), Khamenei menegaskan bahwa setiap bentuk ancaman harus direspons secara cepat dan efektif tanpa dibatasi wilayah geografis.
Ia juga meminta penguatan kemampuan militer melalui pemanfaatan teknologi baru serta pembaruan daftar sasaran agar aset-aset Amerika Serikat dan Israel masuk dalam jangkauan perencanaan militer Iran.
Pernyataan tersebut menandai meningkatnya kewaspadaan Teheran terhadap kemungkinan eskalasi konflik. Namun, hingga kini belum ada kepastian bahwa Amerika Serikat akan melancarkan serangan baru.
Di sisi lain, jalur diplomasi masih berjalan. Reuters melaporkan, delegasi Iran dan Qatar menggelar pembicaraan di Doha pada Sabtu untuk mencari jalan keluar dari konflik yang berlangsung di kawasan Teluk.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan Presiden Donald Trump belum mengambil keputusan untuk melakukan operasi militer baru. Washington, menurut Rubio, masih mengutamakan penyelesaian melalui jalur diplomatik, meskipun tetap menyiapkan opsi militer.
Situasi tersebut memperlihatkan dua pendekatan yang berlangsung bersamaan. Iran meningkatkan kesiapan pertahanan dan opsi pembalasan, sementara sejumlah negara kawasan berupaya mencegah konflik kembali meluas.
Perkembangan ini menjadi perhatian internasional mengingat eskalasi di kawasan Teluk berpotensi membawa konsekuensi lebih luas, terutama terhadap keamanan regional, jalur perdagangan energi, dan stabilitas pasokan minyak dunia.
Hingga Minggu (1/11/2026), belum terdapat pengumuman resmi mengenai dimulainya kembali operasi militer berskala besar antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. (AY)



