Warning: Undefined variable $args in /home/ifaa8831/public_html/djakartanetwork.com/wp-content/themes/wpnews/inc/shortcode-bacajuga.php on line 56
WASHINGTON, djakartanetwork.com — Keuangan pemerintah Amerika Serikat (AS) menghadapi tekanan yang semakin besar. Defisit anggaran pada tahun fiskal 2026 mencapai US$1,99 triliun, naik US$217 miliar dibandingkan tahun sebelumnya, seiring belanja negara yang terus meningkat dan biaya pembayaran bunga utang yang melonjak.
Data Departemen Keuangan AS yang dikutip Reuters pada Jumat (16/10/2026) menunjukkan, defisit tersebut menjadi yang terbesar dalam lima tahun terakhir. Nilainya juga menempatkan kekurangan anggaran tahunan AS sebagai yang terbesar ketiga sepanjang sejarah negara itu.
Besarnya defisit mencerminkan selisih yang lebar antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Sepanjang tahun fiskal yang berakhir pada 30 September 2026, penerimaan negara tercatat sebesar US$5,40 triliun. Angka itu meningkat 3% atau US$169 miliar dibandingkan tahun fiskal sebelumnya.
Namun, pertumbuhan penerimaan tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan belanja. Pengeluaran pemerintah AS mencapai US$7,40 triliun, bertambah US$386 miliar atau 6% dari posisi US$7,01 triliun pada tahun fiskal 2025.
Salah satu komponen yang menyedot anggaran dalam jumlah besar adalah pembayaran bunga utang. Pos pengeluaran ini mencapai US$1,36 triliun, meningkat US$144 miliar atau 12% dibandingkan tahun sebelumnya.
Besarnya biaya tersebut menunjukkan bahwa pembayaran kewajiban utang menjadi beban penting dalam pengelolaan anggaran pemerintah AS. Pengeluaran bunga kini berada di bawah belanja Jaminan Sosial serta gabungan program Medicare dan Medicaid, menurut laporan Reuters.
Tekanan fiskal itu berlangsung ketika total utang pemerintah AS telah melewati US$40 triliun. Reuters melaporkan, ambang tersebut tercapai sekitar dua bulan sebelum data defisit tahunan diumumkan.
Di sisi lain, tahun fiskal 2026 merupakan tahun anggaran penuh pertama dalam masa jabatan kedua Presiden Donald Trump. Defisit pada periode ini meningkat dari US$1,78 triliun pada tahun fiskal 2025.
Sebagai pembanding, defisit AS pada tahun fiskal 2021 mencapai US$2,77 triliun, ketika pemerintah menggelontorkan belanja besar untuk menangani dampak pandemi COVID-19. Dengan demikian, defisit tahun fiskal 2026 menjadi yang terbesar sejak periode tersebut.
Reuters juga menyebut pengembalian dana terkait tarif sebagai salah satu faktor yang turut mendorong kenaikan defisit. Meski demikian, data yang tersedia dalam laporan tersebut belum merinci besaran kontribusi masing-masing faktor terhadap pelebaran defisit.
Kondisi ini menyoroti tantangan pemerintah AS dalam menjaga keseimbangan fiskal ketika pengeluaran tumbuh lebih cepat daripada penerimaan. Dengan beban bunga utang yang terus membesar, perkembangan defisit dan kebutuhan pembiayaan pemerintah akan menjadi bagian penting untuk dicermati dalam melihat arah kebijakan fiskal Washington berikutnya. (AY)


