LONDON, djakartanetwork.com – Kebebasan perusahaan dalam memilih penyedia teknologi menjadi perhatian regulator persaingan usaha Inggris. Amazon Web Services (AWS) dan Microsoft dinilai masih perlu mengatasi sejumlah hambatan yang menyulitkan pelanggan berpindah layanan cloud maupun menggunakan beberapa penyedia sekaligus.
Dalam laporan Reuters pada Jumat (16/10/2026), Competition and Markets Authority (CMA) menyatakan kedua perusahaan masih dapat berbuat lebih banyak untuk mengurangi hambatan tersebut. Regulator juga menyebut kemungkinan penyelidikan lanjutan melalui mekanisme strategic market status masih dalam peninjauan.
Persoalan ini menyentuh kebutuhan perusahaan yang semakin bergantung pada infrastruktur digital untuk menjalankan operasional, menyimpan data, hingga mengembangkan layanan berbasis kecerdasan buatan (AI). Ketika perpindahan penyedia cloud menjadi rumit atau mahal, pelanggan berpotensi kesulitan menyesuaikan layanan dengan kebutuhan bisnis yang terus berubah.
Sebelumnya, investigasi pasar CMA yang rampung pada Juli 2025 menemukan bahwa AWS dan Microsoft memiliki kekuatan pasar signifikan di Inggris. Temuan regulator juga menyoroti biaya transfer data keluar dari layanan cloud, hambatan interoperabilitas, serta praktik lisensi perangkat lunak yang dapat membatasi pilihan pelanggan.
Pada Maret 2026, CMA menyatakan AWS dan Microsoft telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi biaya transfer data dan meningkatkan interoperabilitas. Namun, regulator menegaskan bahwa upaya lanjutan masih diperlukan agar pelanggan lebih mudah menggunakan beberapa penyedia layanan sekaligus maupun beralih ke alternatif lain.
Bagi dunia usaha, persoalan tersebut bukan semata-mata persaingan antara dua raksasa teknologi. Kemudahan berpindah layanan juga berkaitan dengan efisiensi biaya, fleksibilitas pengelolaan data, dan kemampuan perusahaan memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
Langkah CMA berikutnya akan menjadi perhatian pelaku industri cloud. Pengawasan yang efektif diharapkan dapat mendorong persaingan lebih sehat, memperluas pilihan pelanggan, serta memastikan inovasi teknologi tidak justru membuat perusahaan semakin sulit keluar dari ekosistem penyedia tertentu. (AP)


