Warning: Undefined variable $args in /home/ifaa8831/public_html/djakartanetwork.com/wp-content/themes/wpnews/inc/shortcode-bacajuga.php on line 56
JAKARTA, djakartanetwork.com – Pasar kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) global menghadapi arah pertumbuhan yang berbeda di sejumlah kawasan. Ketika Eropa mencatat rekor penjualan bulanan, pasar China dan Amerika Utara justru mengalami penurunan, hingga mendorong permintaan kendaraan listrik dunia melemah pada September 2026.
Data perusahaan riset asal Inggris, Benchmark Mineral Intelligence (BMI), yang dikutip Reuters, Jumat (16/10/2026), menunjukkan permintaan kendaraan listrik global turun 2% menjadi 2,15 juta unit pada September. Penurunan tersebut mengakhiri tren pertumbuhan selama enam bulan berturut-turut.
Meski demikian, kinerja sepanjang tahun berjalan masih menunjukkan pertumbuhan. Total penjualan kendaraan listrik global mencapai 15,5 juta unit, meningkat 3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbedaan kinerja paling mencolok terlihat di Eropa. Kawasan tersebut membukukan penjualan hampir 600.000 kendaraan listrik pada September, tertinggi dalam catatan bulanan. Angka itu melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada Juni sebesar 10%.
Menurut manajer data BMI, Charles Lester, pencapaian tersebut didukung permintaan konsumen yang kuat dan kebijakan yang menopang pasar kendaraan listrik di Eropa.
Kondisi berlawanan terjadi di Amerika Utara. Penjualan kendaraan listrik di kawasan itu merosot 44% pada September, menjadi penurunan bulanan terdalam sepanjang tahun ini.
Penurunan tersebut berkaitan dengan tingginya penjualan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Saat itu, konsumen bergegas membeli kendaraan listrik sebelum insentif pajak federal Amerika Serikat berakhir pada akhir September 2025.
Lester memperkirakan perbandingan penjualan pada kuartal IV akan lebih mudah karena pasar telah melewati periode penurunan setelah berakhirnya insentif pajak tersebut.
Sementara itu, China juga menghadapi pelemahan pasar domestik. Penjualan kendaraan listrik di negara tersebut turun 18% menjadi 1,11 juta unit pada September.
Situasi itu mendorong produsen otomotif di China semakin mengandalkan ekspor untuk menopang penjualan. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati dalam persaingan industri kendaraan listrik global.
Data tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan industri kendaraan listrik tidak bergerak seragam. Kebijakan pemerintah, daya beli konsumen, serta kondisi pasar domestik turut memengaruhi penjualan di setiap kawasan.
Meski permintaan global mengalami koreksi pada September, kenaikan penjualan sepanjang tahun berjalan menunjukkan pasar kendaraan listrik masih mencatat pertumbuhan. Namun, perbedaan kinerja antarwilayah menjadi tantangan bagi produsen dalam menentukan strategi produksi dan ekspansi pasar. (JP)


