Warning: Undefined variable $args in /home/ifaa8831/public_html/djakartanetwork.com/wp-content/themes/wpnews/inc/shortcode-bacajuga.php on line 56
JAKARTA, djakartanetwork.com – Langkah bank sentral India membatasi permintaan dolar AS mulai menjadi perhatian pasar keuangan Asia. Kebijakan tersebut turut menopang rupee yang berpotensi mencatat penguatan hampir 2% dalam sepekan, ketika mayoritas mata uang kawasan bergerak terbatas di tengah ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat (AS).
Mengutip laporan Investing.com, Jumat (16/10/2026), rupee India menjadi salah satu mata uang dengan kinerja paling menonjol di kawasan Asia. Pasangan dolar AS terhadap rupee (USD/INR) tercatat turun 0,2% ke bawah level 95 rupee per dolar AS.
Rupee diperkirakan menguat sekitar 1,9% sepanjang pekan ini. Pergerakan tersebut menjadi perhatian karena pada pekan sebelumnya mata uang India sempat mendekati level terendahnya di kisaran 97 rupee per dolar AS.
Penguatan itu terjadi setelah Reserve Bank of India (RBI) menerapkan sejumlah langkah untuk mengendalikan permintaan dolar yang bersifat spekulatif. Kebijakan tersebut antara lain mencakup pengetatan persyaratan transaksi derivatif valuta asing tertentu serta penyediaan fasilitas khusus bagi perusahaan minyak milik negara untuk membeli dolar secara langsung dari bank sentral.
Meski demikian, intervensi tersebut juga dilaporkan menimbulkan tekanan terhadap likuiditas di pasar valuta asing. Karena itu, perkembangan selanjutnya masih perlu dicermati untuk melihat bagaimana kebijakan tersebut memengaruhi stabilitas pasar dan pergerakan rupee.
Di sisi lain, kondisi mata uang Asia secara umum belum menunjukkan penguatan yang merata. Yen Jepang diperkirakan melemah 0,3% sepanjang pekan, sedangkan yuan China di pasar domestik dan luar negeri relatif bergerak stabil.
Won Korea Selatan tercatat naik tipis 0,1% dan diproyeksikan menguat sekitar 0,2% dalam sepekan, setelah mengalami fluktuasi cukup besar pada awal pekan.
Pergerakan mata uang regional masih dipengaruhi perubahan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta ekspektasi terhadap keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Sebelumnya, data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan sempat mendorong dolar ke level tertinggi sejak awal 2025. Namun, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS kemudian mengurangi daya tarik dolar dan membuat indeks dolar bergerak melemah.
Indeks Dolar AS tercatat turun 0,1% ke level 101,982 dan berada di jalur penurunan mingguan sekitar 0,2%. Kondisi ini berpotensi menjadi ruang bagi sejumlah mata uang lain, meski arah pergerakannya tetap bergantung pada perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter AS.
Investor juga menantikan sinyal dari Ketua The Fed Kevin Warsh dalam sebuah agenda Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok. Berdasarkan data CME FedWatch yang dikutip dalam laporan tersebut, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Oktober sekitar 28%, sementara probabilitas kenaikan pada Desember mencapai 66%.
Perbedaan arah kebijakan bank sentral dan perubahan ekspektasi suku bunga AS membuat pasar valuta asing Asia masih menghadapi ketidakpastian. Dalam situasi tersebut, langkah RBI menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pergerakan rupee, sementara mata uang regional lainnya masih menunggu arah pasar berikutnya. (MY)


