JAKARTA, djakartanetwork.com – Gelombang aksi jual saham teknologi di pasar global mulai menyeret bursa Asia ke zona merah. Pada perdagangan Jumat (6/11/2026), pasar saham Jepang dan Korea Selatan menjadi salah satu yang paling terdampak di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Tekanan tersebut merupakan kelanjutan dari pelemahan tajam Wall Street sehari sebelumnya. Investor mulai mengurangi kepemilikan saham teknologi setelah muncul kekhawatiran mengenai besarnya investasi di sektor AI dan prospek keuntungan yang dihasilkan.
Berdasarkan laporan Investing.com, indeks S&P 500 merosot 4,4 persen pada perdagangan Kamis. Nasdaq Composite mengalami penurunan lebih dalam sebesar 5,5 persen, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 3,4 persen.
Tekanan paling besar terlihat pada sektor semikonduktor. Philadelphia Semiconductor Index bahkan anjlok 12,3 persen, mencerminkan kuatnya aksi jual terhadap saham-saham perusahaan pembuat chip.
Dampak pelemahan Wall Street kemudian menjalar ke pasar Asia. Investor memilih mengurangi eksposur pada saham teknologi di tengah ketidakpastian mengenai keberlanjutan belanja modal perusahaan-perusahaan yang mengembangkan teknologi AI.
Selain sentimen sektor teknologi, perkembangan politik Amerika Serikat setelah pemilu sela juga menjadi perhatian pelaku pasar dalam menilai arah kebijakan dan prospek industri tersebut.
Meski demikian, tidak seluruh indikator pasar bergerak negatif. Kontrak berjangka saham Amerika Serikat tercatat diperdagangkan lebih tinggi pada sesi Asia Jumat, berdasarkan data hingga pukul 02.33 GMT.
Pergerakan pasar global kini memperlihatkan bahwa optimisme terhadap industri AI masih dibayangi pertanyaan mengenai nilai investasi, kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan, serta prospek pertumbuhan sektor teknologi ke depan. (SH)



