JAKARTA, djakartanetwork.com – Volume sampah yang dihasilkan Jakarta mencapai sekitar 9.120 ton setiap hari. Menghadapi beban tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan pembangunan dua hingga tiga fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau pembangkit listrik tenaga sampah.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut fasilitas tersebut diproyeksikan mampu mengolah sekitar 7.000 ton sampah per hari. Rencana ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Pemprov DKI juga telah menjalin kerja sama dengan Danantara melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk mempercepat pengembangan fasilitas pengolahan sampah tersebut.
Sejumlah lokasi masuk dalam rencana pengembangan, di antaranya Bantargebang, Sunter, dan kawasan Tanjung. Pembangunan fasilitas ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang selama ini harus diangkut ke tempat pembuangan akhir.
Selain menyiapkan PSEL, Pemprov DKI tetap menjalankan sejumlah program pengolahan sampah lainnya. Salah satunya melalui RDF Plant Rorotan serta penguatan pemilahan sampah dari sumbernya.
Pemprov DKI juga mendorong perubahan pola pengelolaan sampah dari kumpul-angkut-buang menjadi pilah-angkut-olah. Melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, gerakan pemilahan dan pengolahan sampah diperkuat di lingkungan masyarakat maupun perkantoran.
Dalam perkembangannya, Pemprov DKI melaporkan pengiriman sampah ke TPST Bantargebang telah berkurang sekitar 500 ton per hari.
Meski demikian, pembangunan PSEL masih membutuhkan tahapan persiapan dan percepatan realisasi. Dengan produksi sampah Jakarta yang mencapai ribuan ton setiap hari, keberhasilan proyek tersebut akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, teknologi pengolahan, serta kesinambungan pasokan sampah. (AP)



