JAKARTA, djakartanetwork.com — Pemulihan pasar properti residensial di Indonesia belum berlangsung merata. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan penjualan rumah tipe besar tumbuh 13,08% secara tahunan pada kuartal II 2026. Sebaliknya, penjualan rumah tipe menengah mengalami kontraksi 10,51% pada periode yang sama.
Perbedaan kinerja tersebut mencerminkan dinamika pasar rumah primer yang masih menghadapi tantangan. Meski penjualan rumah tipe besar kembali tumbuh, pelemahan pada segmen menengah menunjukkan bahwa pemulihan belum terjadi di seluruh kelompok hunian.
Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI, penjualan rumah tipe kecil juga masih mengalami kontraksi sebesar 2,88% secara tahunan. Secara keseluruhan, penjualan rumah primer turun 2,36% dibandingkan kuartal II 2025.
Namun, jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, penjualan rumah primer meningkat 9,39%. Perbedaan ini menunjukkan adanya perbaikan aktivitas pasar secara kuartalan, meskipun kinerja tahunan masih berada di wilayah negatif.
Segmen Menengah Menghadapi Tekanan
Kontraksi penjualan rumah tipe menengah menjadi salah satu indikator yang patut dicermati pelaku industri properti. Pergerakan tersebut berpotensi berkaitan dengan sejumlah faktor, mulai dari kemampuan beli konsumen, harga hunian, hingga akses pembiayaan. Namun, data penjualan itu sendiri belum cukup untuk memastikan penyebab utamanya.
Di sisi lain, pertumbuhan penjualan rumah tipe besar menunjukkan bahwa segmen tersebut mencatat kinerja yang lebih baik pada kuartal II 2026. Meski demikian, kenaikan penjualan tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh pasar kelas atas telah pulih atau bahwa kelompok pembeli tertentu menjadi pendorong utama.
Perbedaan ini menjadi tantangan bagi pengembang dalam menentukan strategi pemasaran, harga, dan pilihan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
KPR Masih Menjadi Jalur Pembelian Utama
Dari sisi pembiayaan, BI mencatat kredit pemilikan rumah (KPR) menyumbang 70,05% dari metode pembayaran pembelian rumah primer pada kuartal II 2026. Sementara itu, pembelian melalui skema tunai bertahap mencapai 20,60% dan pembayaran tunai sebesar 9,35%.
Dominasi KPR memperlihatkan pentingnya akses pembiayaan dalam pasar hunian. Bagi calon pembeli, kemampuan memenuhi persyaratan kredit dan membayar cicilan menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis serta lokasi rumah yang dapat dijangkau.
Adapun indeks harga properti residensial tumbuh 0,69% secara tahunan. Kenaikan yang relatif terbatas tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga dalam survei BI tidak setinggi laju pertumbuhan penjualan rumah tipe besar pada periode yang sama.
Pemulihan Pasar Masih Perlu Diuji
Perkembangan penjualan rumah pada kuartal II 2026 memberikan gambaran bahwa pasar properti bergerak dengan kecepatan berbeda antarsegmen. Pertumbuhan pada rumah tipe besar belum cukup untuk menutupi kontraksi penjualan rumah tipe menengah dan kecil.
Bagi industri properti, tantangan berikutnya adalah menjaga permintaan melalui produk yang sesuai dengan kemampuan beli masyarakat serta skema pembiayaan yang realistis. Sementara itu, data lanjutan mengenai harga, pasokan, dan realisasi pembiayaan akan diperlukan untuk melihat apakah perbaikan pasar dapat berlanjut pada kuartal berikutnya.
Data BI tersebut mencakup pasar primer nasional dan tidak secara khusus menggambarkan kondisi Jakarta. Untuk menilai situasi di ibu kota, diperlukan data tambahan mengenai penjualan rumah, harga hunian, serta kemampuan beli konsumen di wilayah Jakarta. (Jojo)



