RIYADH, djakartanetwork.com — Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Arab Saudi melaporkan keberhasilan mencegat rudal balistik yang mengarah ke Riyadh, Sabtu (24/10/2026). Insiden ini terjadi di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melancarkan serangan militer baru terhadap Iran.
Menurut laporan Investing.com, sistem pertahanan udara koalisi pimpinan Arab Saudi menghancurkan rudal tersebut setelah peringatan darurat dikeluarkan di Riyadh, Najran, dan Wadi al-Dawasir. Pihak berwenang kemudian menyatakan situasi bahaya telah berakhir.
Koalisi itu juga melaporkan pencegatan sebuah drone di Provinsi Timur Arab Saudi. Sementara itu, media yang berafiliasi dengan kelompok Houthi memberitakan adanya serangan udara baru di wilayah Kegubernuran Saada, Yaman.
Rangkaian insiden tersebut menambah kekhawatiran terhadap kemungkinan meluasnya konflik regional. Situasi semakin sensitif setelah Trump memperingatkan kemungkinan dimulainya kembali kampanye militer Amerika Serikat terhadap Iran, dengan merujuk pada operasi yang disebut sebagai Operation Epic Fury.
Namun, ancaman serangan baru tersebut belum dapat dipastikan sebagai keputusan operasi militer yang segera dilaksanakan. Laporan yang sama menyebut adanya pernyataan berbeda mengenai kemungkinan waktu serangan, sehingga perkembangan lebih lanjut masih perlu dipantau.
Ketegangan geopolitik turut menjadi perhatian pasar energi. Harga minyak mentah Brent dilaporkan menyentuh US$117,30 per barel pada Jumat, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mencapai sekitar US$103 per barel. Pergerakan tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran mengenai pasokan energi dan keamanan jalur pelayaran di kawasan.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik strategis yang mendapat perhatian karena perannya dalam perdagangan energi global. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu berpotensi memengaruhi distribusi minyak dan meningkatkan volatilitas harga di pasar internasional.
Di sisi diplomatik, upaya penyelesaian persoalan nuklir Iran masih menjadi bagian penting dari dinamika regional. Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan kesiapan lembaganya untuk melanjutkan verifikasi nuklir di Iran, dengan mempertimbangkan kesepakatan dan kondisi keamanan yang diperlukan.
Perkembangan di Arab Saudi dan meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran menunjukkan bahwa situasi Timur Tengah masih dibayangi ketidakpastian. Selain risiko bentrokan bersenjata, pasar energi dan jalur perdagangan internasional juga berpotensi terdampak oleh eskalasi konflik di kawasan tersebut. (SH)


