Brussels, djakartanetwork.com – Dukungan negara-negara Eropa terhadap Ukraina kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya tekanan militer dan ketidakpastian bantuan dari Amerika Serikat (AS). Para pemimpin Uni Eropa dijadwalkan menunjukkan solidaritas kepada Presiden Volodymyr Zelensky dalam pertemuan tingkat tinggi di Brussels, Jumat (16/10/2026).

Pertemuan tersebut berlangsung ketika Ukraina menghadapi serangan rudal dan drone di sejumlah kota. Pada saat bersamaan, Kyiv juga dibayangi kekhawatiran mengenai kemungkinan Washington mengurangi dukungan persenjataan dan pertukaran informasi intelijen.

Situasi semakin rumit setelah Presiden AS Donald Trump kembali mengkritik operasi militer Ukraina. Trump menyebut serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia sebagai sebuah “aib” dan mengaitkannya dengan kenaikan harga energi.

Trump sebelumnya juga mengumumkan bahwa Ukraina dan Rusia telah sepakat untuk tidak menyerang fasilitas energi satu sama lain. Pengumuman pada akhir pekan sebelumnya itu mengejutkan Zelensky, menurut laporan Reuters.

Di tengah persiapan pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang, Trump menilai serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia ikut mendorong kenaikan harga energi. Kenaikan tersebut dinilai berpotensi menjadi persoalan politik domestik bagi pemerintahannya menjelang pemungutan suara.

Perkembangan ini menempatkan Ukraina dalam situasi yang semakin kompleks. Selain menghadapi ancaman militer Rusia, Kyiv harus mencermati arah kebijakan Washington yang dapat memengaruhi dukungan terhadap pertahanan negara tersebut.

Bagi Uni Eropa, pertemuan di Brussels menjadi kesempatan untuk menegaskan dukungan politik kepada Ukraina di tengah ketidakpastian tersebut. Namun, bentuk dan keberlanjutan dukungan Eropa tetap menjadi faktor penting yang perlu dicermati dalam perkembangan konflik berikutnya.

Di tengah dinamika hubungan transatlantik itu, masa depan dukungan militer dan diplomatik terhadap Kyiv menjadi salah satu persoalan utama dalam upaya Ukraina mempertahankan diri dari serangan Rusia. (AP)