JAKARTA, djakartanetwork.com – Perkembangan ekonomi digital mulai mengubah arah bisnis properti industri di kawasan Jabodetabek. Meningkatnya investasi pusat data atau data center mendorong kebutuhan lahan berskala besar sekaligus meningkatkan persaingan antarkawasan industri dalam menarik investor.

Perubahan tersebut terlihat dari laporan CBRE Indonesia mengenai perkembangan pasar properti kuartal III 2026. Tingkat hunian kawasan industri di Jabodetabek tercatat mencapai 91,6%, dengan penyerapan lahan sekitar 59 hektare sepanjang periode tersebut.

Salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup besar adalah Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Harga tanah industri di kawasan ini telah melampaui Rp3,5 juta per meter persegi, meningkat dibandingkan kisaran Rp3 juta per meter persegi pada 2025.

Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus, menjelaskan bahwa kenaikan harga tersebut tidak hanya dipengaruhi aktivitas industri konvensional. Ekspansi pusat data turut memberikan tekanan terhadap permintaan lahan karena sektor tersebut memiliki nilai investasi tinggi dan membutuhkan lokasi dengan infrastruktur memadai.

Menurut Anton, ketersediaan listrik, air, dan jaringan telekomunikasi menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan sebelum menentukan lokasi pembangunan fasilitas pusat data.

Kondisi ini membuat kawasan industri yang telah memiliki infrastruktur matang semakin kompetitif. Cikarang dan Karawang menjadi dua koridor yang banyak dilirik karena didukung ekosistem industri serta akses terhadap fasilitas pendukung.

Di sisi lain, kebutuhan ruang untuk kegiatan pergudangan dan distribusi juga masih menunjukkan perkembangan positif. CBRE mencatat tingkat hunian lahan logistik modern mencapai sekitar 97%, didukung permintaan dari perdagangan elektronik, manufaktur, perusahaan logistik, hingga layanan rantai dingin.

Penyerapan ruang logistik modern pada kuartal III 2026 tercatat sekitar 26.800 meter persegi. Keterbatasan pasokan baru turut menjadi faktor yang menopang prospek pasar pergudangan di wilayah Jabodetabek.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa bisnis properti industri tidak lagi hanya bergantung pada kebutuhan pabrik dan fasilitas produksi. Infrastruktur digital kini menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan arah investasi dan nilai ekonomi kawasan.

Namun, meningkatnya kebutuhan pusat data juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi pengelola kawasan industri. Ketersediaan lahan harus diimbangi dengan kapasitas listrik dan pasokan air yang memadai agar ekspansi investasi tidak menimbulkan persoalan infrastruktur.

Dengan meningkatnya kebutuhan teknologi digital dan komputasi berbasis AI, persaingan kawasan industri diperkirakan semakin bergeser pada kemampuan menyediakan fasilitas pendukung yang andal, bukan sekadar menawarkan lahan dengan harga kompetitif. (SH/Berbagai Sumber)