JAKARTA, djakartanetwork.com — Nama Sengkuni dikenal luas dalam tradisi pewayangan Jawa sebagai tokoh yang lihai menyusun siasat dan memainkan konflik di lingkungan kerajaan. Sosok ini berasal dari Sakuni dalam wiracarita Mahabharata, yang kemudian berkembang dengan karakter dan peran khas dalam pertunjukan wayang di Nusantara.

 

Dalam kisah Mahabharata, Sakuni merupakan paman para Korawa dari pihak ibu. Ia dikenal karena keterlibatannya dalam perseteruan antara Korawa dan Pandawa, termasuk permainan dadu yang berujung pada kekalahan Pandawa dan pengasingan mereka.

 

Dalam pewayangan Jawa, Sakuni lebih dikenal dengan nama Sengkuni atau Harya Suman. Ia digambarkan sebagai patih di Kerajaan Astina yang memiliki kemampuan berbicara dan menyusun strategi, tetapi kerap menggunakan kecerdasannya untuk menghasut serta memperuncing permusuhan.

 

Peran Sengkuni menjadi penting dalam berbagai lakon yang mengisahkan persaingan antara Pandawa dan Korawa. Dalam sejumlah versi cerita, ia digambarkan mendorong Duryudana untuk mempertahankan permusuhan terhadap Pandawa. Intrik yang dibangunnya menjadi salah satu unsur yang mengantarkan kisah menuju Perang Baratayuda.

 

Berbeda dari tokoh yang mengandalkan kekuatan fisik di medan perang, Sengkuni dikenal sebagai figur yang memengaruhi jalannya peristiwa melalui perkataan, strategi, dan permainan kepentingan. Karakter inilah yang membuatnya menempati posisi khas dalam khazanah pewayangan Jawa.

 

Tokoh wayang sebagai cermin kehidupan sosial

 

Dalam budaya Jawa, wayang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media penyampaian nilai, kritik sosial, dan refleksi mengenai perilaku manusia. Karakter Sengkuni kerap digunakan untuk menggambarkan bahaya kecerdikan yang tidak disertai kejujuran dan tanggung jawab moral.

 

Kajian yang diterbitkan dalam Jurnalistrendi pada 2026 mengenai lakon Banjaran Sengkuni menunjukkan bahwa kelicikan tokoh tersebut dapat dimaknai melalui beberapa lapisan, mulai dari loyalitas keluarga hingga strategi mempertahankan kekuasaan. Penelitian itu juga menempatkan pertunjukan wayang sebagai ruang untuk membaca dinamika sosial dan praktik kekuasaan.

 

Seiring perkembangan zaman, nama Sengkuni masuk ke dalam percakapan sehari-hari sebagai kiasan bagi sosok yang dianggap gemar menghasut atau memecah belah. Penggunaan istilah tersebut memperlihatkan bagaimana karakter pewayangan dapat bertahan dalam ingatan kolektif masyarakat, melampaui panggung pertunjukan.

 

Meski demikian, pemaknaan terhadap Sengkuni tidak selalu berdiri pada satu sudut pandang. Dalam kajian budaya, karakter tokoh dapat dibaca melalui latar cerita, penafsiran dalang, serta konteks masyarakat yang menyaksikan pertunjukan. Sengkuni pun menjadi contoh bagaimana cerita klasik terus memperoleh penafsiran baru dari satu generasi ke generasi berikutnya.

 

Keberadaan tokoh ini memperlihatkan daya hidup Mahabharata dalam kebudayaan Indonesia. Melalui adaptasi dan kreativitas para dalang, kisah yang berasal dari tradisi India tersebut berkembang menjadi bagian dari identitas seni pertunjukan Jawa, dengan karakter, bahasa, dan pesan moral yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat. (AP)