INDRAMAYU, djakartanetwork.com — Di kawasan pesisir Indramayu, Jawa Barat, nama Pulomas menyimpan cerita yang terus hidup dari mulut ke mulut. Tempat ini dikenal bukan semata karena keberadaannya sebagai situs keramat, melainkan juga karena legenda tentang kerajaan gaib dan kepercayaan bahwa kekayaan dapat diperoleh melalui jalan spiritual yang tidak biasa.

Bagi sebagian masyarakat, Pulomas merupakan tempat yang lekat dengan kisah-kisah mistis. Sebagian cerita menghubungkannya dengan Dewi Lanjar, sosok yang dikenal dalam folklor pesisir Jawa. Ada pula versi lain yang menyebut Raden Werdinata sebagai penguasa kerajaan gaib di kawasan tersebut. Perbedaan penuturan ini memperlihatkan bahwa kisah Pulomas berkembang melalui tradisi lisan yang diwariskan antargenerasi.

Pulomas sendiri dikenal melalui lokasi yang berada di wilayah Cantigi Kulon dan Cantigi Wetan, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu. Seiring berjalannya waktu, namanya semakin lekat dengan cerita tentang pesugihan, yakni kepercayaan mengenai upaya memperoleh kekayaan melalui hubungan dengan kekuatan gaib.

Dalam cerita yang berkembang di tengah masyarakat, orang yang datang ke tempat keramat biasanya memiliki tujuan beragam. Ada yang ingin berziarah, mencari ketenangan batin, memanjatkan doa, atau sekadar mengetahui kisah yang menyelimuti lokasi tersebut. Sebagian cerita mengaitkan kedatangan pengunjung dengan harapan memperoleh kelapangan rezeki, bahkan kekayaan secara cepat.

Kepercayaan mengenai pesugihan dalam tradisi lokal sering kali disertai kisah tentang tirakat, permohonan khusus, dan konsekuensi spiritual yang diyakini menyertai sebuah perjanjian gaib. Di Pulomas, cerita semacam itu menjadi bagian dari reputasi mistis yang berkembang di masyarakat. Namun, rincian mengenai bentuk ritual dan praktik yang benar-benar dilakukan pengunjung masih memerlukan penelusuran langsung agar tidak sekadar mengulang kabar yang belum terverifikasi.

Fenomena tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari tradisi masyarakat Jawa yang mengenal tempat-tempat keramat sebagai ruang untuk berziarah dan menjalankan laku spiritual. Dalam konteks budaya, keberadaan situs seperti Pulomas memperlihatkan bagaimana kepercayaan, cerita leluhur, dan harapan hidup bertemu dalam sebuah ruang yang dianggap memiliki makna khusus.

Meski demikian, tidak tepat menyamaratakan semua pengunjung Pulomas sebagai pencari pesugihan. Motif seseorang mendatangi tempat keramat dapat berbeda-beda, sementara keyakinan tentang kekuatan gaib merupakan bagian dari kepercayaan yang tidak dapat diperlakukan sebagai bukti sejarah atau fakta ilmiah.

Di sinilah pentingnya membedakan legenda dari sejarah. Kisah tentang kerajaan gaib, tokoh-tokoh supranatural, dan janji kekayaan masih berada dalam ranah cerita rakyat yang perlu ditelusuri melalui sumber-sumber yang  dipertanggungjawabkan.
Untuk mengetahui perjalanan Pulomas secara lebih utuh, diperlukan keterangan juru kunci, warga setempat, budayawan Indramayu, serta penelusuran arsip dan catatan sejarah daerah.

Pulomas pada akhirnya menyimpan lebih dari sekadar kisah mistis. Ia menjadi bagian dari lanskap budaya Indramayu, tempat cerita diwariskan, kepercayaan dipertahankan, dan rasa ingin tahu terus tumbuh. Di antara legenda dan kenyataan, sejarah Pulomas masih menyisakan ruang untuk ditelusuri lebih jauh, bukan hanya untuk memahami mitos pesugihan, tetapi juga untuk mengenali masyarakat dan tradisi yang membuat kisah itu tetap hidup hingga hari ini. (SH)