JAKARTA, djakartanetwork.com – Yen Jepang menguat ke level tertinggi dalam hampir tiga pekan pada Kamis (22/10/2026), ketika dolar Amerika Serikat (AS) kehilangan tenaga di pasar valuta asing. Pergerakan ini terjadi di tengah penurunan imbal hasil obligasi global dan meningkatnya perhatian investor terhadap agenda kebijakan sejumlah bank sentral pada akhir Oktober.
Mengutip laporan Investing.com, yen berpeluang mencatat penguatan harian terbaiknya dalam hampir satu bulan. Perubahan arah pasar tersebut turut mencerminkan pergeseran minat investor terhadap mata uang utama dunia di tengah ketidakpastian pasar keuangan.
Indeks Dolar AS, yang mengukur posisi greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,2% menjadi 101,58. Indeks itu juga sempat menyentuh titik terendah sejak 1 Oktober 2026.
Tekanan terhadap dolar muncul setelah pasar menghadapi gejolak saham teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), serta dinamika di pasar utang korporasi. Kondisi tersebut mendorong sebagian investor institusional mencari instrumen yang lebih likuid dan mempertimbangkan mata uang selain dolar AS.
Pergerakan imbal hasil obligasi global yang menurun turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi arah perdagangan valuta asing. Kombinasi sejumlah faktor itu membuat pelaku pasar kembali mencermati prospek kebijakan moneter negara-negara utama.
Fokus investor kini tertuju pada rangkaian pertemuan bank sentral yang dijadwalkan berlangsung pada 28–30 Oktober 2026. Keputusan mengenai suku bunga dan sinyal kebijakan dari otoritas moneter berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS, yen, serta mata uang utama lainnya.
Meski demikian, arah pasar valuta asing selanjutnya masih akan bergantung pada perkembangan ekonomi dan komunikasi kebijakan masing-masing bank sentral. Investor diperkirakan mencermati setiap petunjuk mengenai prospek suku bunga sebelum menentukan posisi perdagangan berikutnya. (AY)


