JAKARTA, djakartanetwork.com – Masturbasi atau onani tidak serta-merta membahayakan kesehatan. Namun, aktivitas yang dilakukan dengan gesekan terlalu kuat atau menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan dapat menimbulkan iritasi pada organ intim hingga mengganggu rutinitas sehari-hari.
Dalam perspektif medis, masturbasi merupakan bagian dari perilaku seksual yang umum. Cleveland Clinic menjelaskan, tidak ada bukti kuat bahwa masturbasi secara langsung menyebabkan kebutaan, kemandulan, atau penurunan fungsi seksual permanen. Karena itu, dampaknya perlu dipahami berdasarkan kondisi fisik dan pengaruhnya terhadap kehidupan seseorang, bukan hanya dari anggapan yang beredar di masyarakat.
Risiko fisik akibat gesekan berlebihan
Keluhan yang mungkin muncul antara lain kulit terasa perih, kemerahan, lecet, atau nyeri pada area genital. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika gesekan terlalu kuat, berlangsung terlalu lama, atau dilakukan berulang kali tanpa memberi waktu bagi kulit untuk pulih.
Pada sebagian orang, pembengkakan ringan juga dapat muncul setelah stimulasi berulang dalam waktu singkat. Menghentikan aktivitas sementara dan memberi kesempatan bagi jaringan untuk pulih dapat membantu meredakan keluhan ringan. Apabila rasa sakit menetap, terjadi perdarahan, atau muncul pembengkakan yang tidak kunjung membaik, pemeriksaan medis diperlukan.
Dampak terhadap aktivitas sehari-hari
Selain memperhatikan kondisi fisik, penting pula mengenali apakah kebiasaan masturbasi mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari. Frekuensi yang tinggi tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan. Hal yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang kesulitan mengendalikan dorongan tersebut hingga mengabaikan pekerjaan, pendidikan, waktu tidur, maupun hubungan sosial.
Planned Parenthood menjelaskan bahwa tidak ada batas frekuensi yang berlaku sama bagi setiap orang. Penilaian lebih tepat dilakukan dengan melihat apakah aktivitas tersebut menyebabkan cedera, menimbulkan tekanan emosional, atau menghambat tanggung jawab sehari-hari.
Meluruskan Mitos Tentang Onani
Masturbasi kerap dikaitkan dengan berbagai anggapan, mulai dari menyebabkan kemandulan hingga merusak kemampuan seksual. Namun, klaim tersebut tidak didukung bukti medis yang memadai. Masturbasi juga tidak otomatis menyebabkan gangguan mental.
Meski demikian, seseorang dapat mengalami kecemasan atau rasa bersalah karena faktor pribadi, sosial, maupun keyakinan yang dianut. Jika perasaan tersebut terus berlanjut dan mengganggu kualitas hidup, berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi pilihan yang membantu.
Kenali Kenali Tanda Yang Perlu Diperiksa
Masyarakat sebaiknya tidak mengabaikan nyeri yang berkepanjangan, luka, perdarahan, atau perubahan pada organ intim setelah masturbasi. Keluhan tersebut perlu dinilai oleh tenaga kesehatan untuk memastikan penyebab dan penanganan yang sesuai.
“Konsultasi juga dapat dilakukan apabila dorongan masturbasi terasa sulit dikendalikan meskipun sudah menimbulkan dampak negatif terhadap pekerjaan, hubungan, atau aktivitas sehari-hari,” jelas dokter Tiwi kepada djakartanetwork.com.
Memahami kesehatan seksual secara tepat berarti membedakan fakta medis dari mitos. Menjaga kebersihan, menghindari gesekan yang melukai, serta memperhatikan kondisi tubuh menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko. Yang terpenting, penilaian terhadap kebiasaan ini sebaiknya didasarkan pada dampak nyata terhadap kesehatan dan kehidupan seseorang, bukan semata-mata pada frekuensinya. (SH)


