NEW DELHI, djakartanetwork.com — Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mempercepat penemuan calon obat di India dengan memangkas waktu dan biaya penelitian tahap awal. Namun, teknologi ini belum dapat menggantikan pengujian laboratorium dan uji klinis pada manusia untuk memastikan keamanan serta efektivitas obat.

Perusahaan rintisan farmasi Peptris dilaporkan mampu membawa salah satu program pengembangan obat ke tahap praklinis akhir dalam sekitar 18 bulan. AI membantu peneliti menyaring senyawa, mengidentifikasi target biologis, dan merancang molekul potensial sebelum dilakukan eksperimen fisik.

Meski mempercepat proses pencarian kandidat, prediksi AI tidak otomatis membuktikan suatu senyawa aman dan efektif bagi pasien. Kandidat obat tetap harus melewati pengujian praklinis dan uji klinis sebelum dapat memperoleh persetujuan penggunaan.

Sejumlah pakar industri menilai, pengembangan obat juga bergantung pada ketersediaan infrastruktur penelitian, pendanaan jangka panjang, dan kapasitas uji klinis. Karena itu, AI lebih tepat diposisikan sebagai alat pendukung penelitian, bukan pengganti proses pembuktian medis.

Pemerintah India turut memperkuat dukungan terhadap riset farmasi. Pada September 2026, Departemen Farmasi India menyetujui pendanaan sekitar 16 miliar rupee untuk 41 proyek penelitian farmasi dan teknologi medis, termasuk penemuan obat serta pengembangan klinis.

Pemanfaatan AI diharapkan memperkuat daya saing industri farmasi India. Namun, manfaat teknologi tersebut pada akhirnya tetap ditentukan oleh kemampuan peneliti membuktikan bahwa calon obat yang ditemukan benar-benar aman dan memberikan manfaat bagi pasien. (AP)