JAKARTA, djakartanetwork.com — Bekam masih menjadi salah satu metode pengobatan tradisional yang diminati masyarakat untuk membantu meredakan pegal-pegal, ketegangan otot, dan sejumlah keluhan nyeri. Meski demikian, terapi ini memiliki keterbatasan manfaat secara medis serta risiko efek samping yang perlu dipahami.
Dikenal dengan istilah cupping therapy, bekam dilakukan menggunakan cangkir khusus yang menciptakan tekanan negatif pada kulit. Metode ini terbagi menjadi bekam kering, tanpa melukai kulit, dan bekam basah, yang melibatkan tusukan atau sayatan dangkal untuk mengeluarkan sejumlah kecil darah.
Pusat Nasional Kesehatan Komplementer dan Integratif Amerika Serikat (NCCIH) menyebutkan, sejumlah penelitian menunjukkan bekam berpotensi membantu mengurangi nyeri, termasuk nyeri punggung dan leher. Namun, kualitas bukti ilmiah yang tersedia masih terbatas sehingga manfaatnya belum dapat dipastikan untuk berbagai kondisi kesehatan.
Bekam juga belum terbukti secara meyakinkan mampu mengeluarkan racun dari tubuh atau menyembuhkan seluruh penyakit. Karena itu, terapi ini tidak seharusnya menggantikan pemeriksaan dan pengobatan medis yang diperlukan.
Dari sisi keamanan, bekam dapat menimbulkan memar, perubahan warna kulit, nyeri, dan rasa tidak nyaman. Pada bekam basah, risikonya lebih besar karena melibatkan pelukaan kulit dan pengeluaran darah, termasuk perdarahan, infeksi, jaringan parut, serta anemia apabila dilakukan berulang kali.
Penggunaan peralatan yang tidak steril juga berpotensi menularkan penyakit melalui darah, seperti hepatitis B dan hepatitis C.
Orang dengan anemia, gangguan pembekuan darah, penyakit kulit tertentu, atau yang menggunakan obat pengencer darah perlu berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menjalani bekam, terutama metode basah.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat disarankan memilih praktisi terlatih yang menerapkan prosedur kebersihan secara ketat dan menggunakan peralatan steril. Jika muncul demam, kemerahan yang meluas, nyeri berat, atau luka bernanah setelah terapi, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.
Dengan demikian, bekam dapat dipertimbangkan sebagai terapi komplementer untuk keluhan tertentu, tetapi manfaatnya perlu ditempatkan secara proporsional berdasarkan bukti ilmiah. Keamanan prosedur dan kondisi kesehatan pasien tetap menjadi pertimbangan utama sebelum menjalani terapi. (SH)
Sumber: National Center for Complementary and Integritas


