Warning: Undefined variable $args in /home/ifaa8831/public_html/djakartanetwork.com/wp-content/themes/wpnews/inc/shortcode-bacajuga.php on line 56
JAKARTA, djakartanetwork.com – Pencegahan stunting tidak cukup dilakukan setelah anak mengalami gangguan pertumbuhan. Upaya tersebut perlu dimulai sejak masa kehamilan melalui pemenuhan gizi ibu, pemeriksaan kesehatan secara rutin, hingga pemantauan tumbuh kembang anak selama dua tahun pertama kehidupannya.
Periode yang dikenal sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi salah satu fase paling penting dalam membangun fondasi kesehatan anak. Rentang ini mencakup masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, ketika pertumbuhan fisik dan perkembangan otak berlangsung pesat.
Kementerian Kesehatan menegaskan pentingnya intervensi sejak periode tersebut untuk mencegah stunting dan memastikan tumbuh kembang anak berlangsung optimal. Upaya ini tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi juga membutuhkan keterlibatan ayah, keluarga, tenaga kesehatan, dan pemerintah.
Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang diumumkan Kementerian Kesehatan pada 2025, prevalensi stunting nasional tercatat sebesar 19,8 persen, turun dari 21,5 persen pada 2023. Meski menunjukkan perbaikan, angka tersebut menegaskan bahwa pencegahan dan penanganan stunting masih menjadi pekerjaan penting di tingkat nasional.
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan anak akibat kekurangan gizi kronis dan faktor lain, termasuk infeksi berulang. Kondisi ini dapat ditandai dengan panjang atau tinggi badan yang lebih rendah daripada standar pertumbuhan anak seusianya. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan dan kualitas hidup anak.
Karena itu, pemenuhan gizi perlu dimulai sejak ibu mengandung. Ibu hamil dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan menjalani pemeriksaan kehamilan secara teratur agar kondisi kesehatan ibu serta perkembangan janin dapat dipantau.
Setelah kelahiran, perhatian berlanjut pada pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, pemberian makanan pendamping ASI sesuai usia, pemenuhan kebutuhan gizi, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan secara berkala melalui fasilitas kesehatan dan posyandu.
Selain faktor gizi, kebersihan lingkungan juga berperan dalam mendukung kesehatan anak. Akses terhadap air bersih, sanitasi yang layak, dan kebiasaan hidup bersih dapat membantu mengurangi risiko infeksi yang berpotensi mengganggu pertumbuhan.
Materi edukasi yang dipublikasikan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Mandailing Natal turut menekankan tiga langkah utama pencegahan stunting, yakni pemenuhan gizi selama kehamilan, pemantauan tumbuh kembang serta imunisasi anak, dan menjaga kebersihan lingkungan.
Pencegahan stunting pada akhirnya membutuhkan kerja bersama dan kesinambungan layanan. Edukasi kepada keluarga perlu berjalan seiring dengan akses terhadap layanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan gizi, serta pemantauan anak secara berkala.
Dengan memperkuat intervensi sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan, upaya menekan stunting diharapkan tidak hanya memperbaiki indikator kesehatan anak, tetapi juga mendukung terbentuknya generasi Indonesia yang tumbuh sehat dan berkembang optimal. (MY)


