Warning: Undefined variable $args in /home/ifaa8831/public_html/djakartanetwork.com/wp-content/themes/wpnews/inc/shortcode-bacajuga.php on line 56

 

JAKARTA, djakartanetwork.com — Harga emas dunia menghadapi tekanan setelah data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) yang dirilis pada Rabu menunjukkan angka lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi ini memicu ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau mengambil langkah pengetatan moneter.

Sentimen tersebut mendorong penguatan dolar AS, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS untuk tenor pendek ikut meningkat. Kombinasi ini membuat emas kehilangan daya tarik di mata sebagian investor, mengingat logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.

Berdasarkan data perdagangan pada pukul 16.28 waktu Eastern Time (ET) atau 20.28 GMT, harga emas spot terkoreksi 1,5 persen menjadi US$4.100,23 per ons.

Namun, pergerakan berbeda terlihat pada kontrak emas berjangka. Instrumen tersebut justru naik 0,3 persen ke level US$4.121,45 per ons.

Tekanan terhadap emas juga datang dari kenaikan harga minyak. Kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi menambah ketidakpastian pasar dan berpotensi memperbesar tekanan inflasi.

Bagi pelaku pasar, perkembangan harga energi dan arah kebijakan suku bunga AS menjadi dua faktor penting yang perlu dicermati. Jika inflasi bertahan tinggi, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat semakin terbatas.

Meski demikian, arah pergerakan emas selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi AS, dinamika dolar, serta respons bank sentral terhadap tekanan inflasi.

Perbedaan pergerakan antara harga emas spot dan berjangka juga menunjukkan bahwa pasar emas tidak bergerak seragam. Investor masih mempertimbangkan berbagai faktor ekonomi sebelum menentukan langkah berikutnya. (AP)