Warning: Undefined variable $args in /home/ifaa8831/public_html/djakartanetwork.com/wp-content/themes/wpnews/inc/shortcode-bacajuga.php on line 56

 

JAKARTA, djakartanetwork.com — Skinhead bukan sekadar gaya rambut plontos, sepatu bot, dan celana jeans. Subkultur yang lahir di Inggris pada akhir 1960-an ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan identitas kelas pekerja, perkembangan musik, serta pergaulan lintas budaya.

Skinhead tumbuh di lingkungan kelas pekerja Inggris, khususnya London. Kemunculannya dipengaruhi gaya hard mod, bagian dari kultur mod yang dikenal dengan penampilan rapi dan praktis. Seiring perkembangannya, skinhead membangun ciri khas melalui rambut pendek, sepatu bot, celana jeans, kemeja, suspender, dan jaket.

Gaya tersebut tidak hanya menjadi pilihan berpakaian, tetapi juga mencerminkan identitas sosial sebagian anak muda pada masa itu. Penampilan yang tegas dan praktis menjadi bagian dari karakter komunitas yang dekat dengan kehidupan kelas pekerja.

Perkembangan skinhead juga tidak terlepas dari pengaruh budaya Jamaika. Komunitas imigran Jamaika di Inggris membawa musik ska, rocksteady, dan reggae yang kemudian menjadi bagian penting dalam kultur skinhead generasi awal. Pengaruh tersebut memperlihatkan adanya pertemuan budaya yang ikut membentuk identitas subkultur ini.

Namun, perjalanan skinhead tidak selalu berjalan tanpa kontroversi. Sejak akhir 1970-an hingga dekade berikutnya, sebagian kelompok yang menggunakan identitas skinhead terhubung dengan gerakan nasionalis kulit putih dan kelompok sayap kanan ekstrem. Kondisi tersebut kemudian membuat skinhead kerap diasosiasikan dengan rasisme dan kekerasan.

Padahal, komunitas skinhead memiliki beragam orientasi. Selain kelompok yang menganut pandangan ekstrem, terdapat skinhead tradisional dan kelompok antirasis yang memiliki pendekatan berbeda terhadap identitas serta nilai-nilai yang mereka anut. Karena itu, penampilan kepala plontos dan sepatu bot tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan pandangan politik seseorang.

Di Indonesia, kultur skinhead berkembang melalui pergaulan musik alternatif dan komunitas anak muda. Salah satu tokoh yang dikenal memperkenalkannya di Jakarta sejak awal 1990-an adalah Adhitya Murti, atau Utay. Ia mengenal kultur tersebut saat belajar di Singapura sebelum memperkenalkannya melalui lingkungan pertemanan dan komunitas punk di Jakarta.

Perkembangan skinhead di Indonesia kemudian meluas melalui musik, toko pakaian, rilisan rekaman, dan aktivitas komunitas. Budaya yang berasal dari Inggris tersebut berinteraksi dengan lingkungan sosial Indonesia dan membentuk ekspresi yang beragam di kalangan pengikutnya.

Sebagian pengikut skinhead menaruh perhatian pada musik ska dan reggae, sementara yang lain menekankan identitas kelas pekerja atau menjadikan fesyen sebagai bentuk ekspresi personal. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa komunitas skinhead tidak memiliki satu pandangan tunggal.

Hingga kini, skinhead tetap dikenal sebagai subkultur yang menggabungkan unsur fesyen, musik, dan identitas sosial. Perjalanannya dari Inggris ke Indonesia memperlihatkan bagaimana budaya anak muda dapat melintasi batas negara dan berkembang sesuai lingkungan masyarakat yang menerimanya.(AY)