TOKYO, djakartanetwork.com – Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) diperkirakan belum akan mengubah suku bunga acuannya dalam pertemuan Jumat (30/10/2026). Meski demikian, sinyal kebijakan yang disampaikan menunjukkan peluang pengetatan moneter masih terbuka, bahkan berpotensi dilakukan pada Desember mendatang.
Fokus BOJ saat ini adalah menjaga inflasi agar tidak bergerak melampaui target 2%. Langkah tersebut menjadi pertimbangan utama bank sentral dalam menentukan arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Mengutip laporan Reuters, Jumat (30/10/2026), sejumlah analis menilai BOJ mulai menunjukkan sikap yang lebih ketat atau hawkish. Bank sentral Jepang dinilai membuka ruang untuk menaikkan suku bunga secara bertahap dalam rentang beberapa bulan.
Perubahan arah kebijakan tersebut juga berpotensi mendekatkan langkah Jepang dengan bank sentral Amerika Serikat dan Eropa yang turut mencermati risiko inflasi global.
Tekanan harga saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor energi, tetapi juga meningkatnya investasi pada sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Besarnya kebutuhan infrastruktur teknologi dinilai ikut mendorong permintaan dan memberikan tekanan terhadap harga.
Kazuo Momma, mantan pejabat eksekutif BOJ yang kini menjadi ekonom eksekutif di Mizuho Research Institute, menilai investasi AI memberikan kontribusi signifikan terhadap tekanan harga global.
Menurutnya, sebagian inflasi yang terjadi belakangan mencerminkan peningkatan permintaan, bukan semata-mata kenaikan biaya produksi.
Di sisi lain, gejolak harga energi akibat perang Iran turut menambah tantangan bagi otoritas moneter global. Kombinasi tekanan energi dan lonjakan investasi teknologi membuat bank sentral perlu lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan.
Perkembangan kebijakan BOJ menjadi perhatian pasar keuangan internasional karena perubahan suku bunga Jepang berpotensi memengaruhi biaya pinjaman, pergerakan yen, serta arus investasi global.
(SH/Berbagai Sumber)



