Warning: Undefined variable $args in /home/ifaa8831/public_html/djakartanetwork.com/wp-content/themes/wpnews/inc/shortcode-bacajuga.php on line 56
JAKARTA, djakartanetwork.com – Dorongan seksual yang sulit dikendalikan dapat menjadi persoalan kesehatan ketika mulai mengganggu pekerjaan, hubungan pribadi, hingga aktivitas sehari-hari. Kondisi yang kerap disebut hyper sex atau hiperseksualitas ini tidak bisa dinilai hanya dari tingginya frekuensi hasrat seksual seseorang.
Dalam dunia medis, perilaku seksual yang berulang dan sulit dikendalikan dikenal sebagai compulsive sexual behaviour disorder (CSBD). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan kondisi tersebut sebagai gangguan kontrol impuls dalam International Classification of Diseases edisi ke-11 (ICD-11).
Seseorang perlu mendapat perhatian profesional apabila berulang kali gagal mengendalikan dorongan seksual, menghabiskan banyak waktu untuk perilaku seksual, atau terus melakukannya meskipun telah menimbulkan dampak negatif bagi kehidupannya.
Dampak tersebut dapat berupa terganggunya pekerjaan, konflik dalam hubungan, masalah keuangan, hingga perilaku seksual berisiko. Sebagian orang juga mengalami kesulitan mengurangi perilaku tersebut meskipun telah berusaha melakukannya.
Namun, libido tinggi tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan. Penilaian medis harus mempertimbangkan kemampuan seseorang mengendalikan perilaku, dampak yang ditimbulkan, serta kondisi lain yang mungkin menjadi penyebabnya. Perasaan bersalah yang semata-mata muncul akibat penilaian moral juga tidak cukup untuk menetapkan diagnosis.
Penyebab perilaku seksual kompulsif belum sepenuhnya dipahami. Sejumlah faktor yang dapat berkaitan dengan kondisi ini meliputi masalah kesehatan mental, tekanan emosional, penggunaan zat tertentu, serta kondisi neurologis atau efek obat-obatan tertentu.
Karena itu, pemeriksaan oleh dokter atau psikiater diperlukan untuk mengevaluasi gejala dan menentukan apakah terdapat gangguan lain yang turut memengaruhi perilaku seksual seseorang.
Dari sisi penanganan, kondisi ini dapat dikelola melalui pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Salah satunya melalui psikoterapi, termasuk terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT), yang membantu pasien mengenali pemicu, memahami pola pikir, dan mengembangkan cara yang lebih sehat dalam merespons dorongan seksual.
Dalam kasus tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan pemberian obat, terutama jika terdapat gejala berat atau gangguan penyerta yang membutuhkan penanganan. Penggunaan obat harus berdasarkan pemeriksaan dan resep tenaga medis, bukan dilakukan secara mandiri.
Upaya lain yang dapat mendukung penanganan meliputi pengelolaan stres, membangun rutinitas yang seimbang, berolahraga, menjaga waktu istirahat, serta membatasi situasi yang diketahui memicu perilaku sulit dikendalikan.
Pendampingan psikolog atau psikiater patut dipertimbangkan ketika perilaku tersebut terus berulang, sulit dikontrol, atau mulai merusak kualitas hidup. Dukungan pasangan dan lingkungan terdekat juga dapat membantu selama diberikan tanpa menghakimi atau memberikan stigma.
Penanganan perilaku seksual kompulsif bukan bertujuan menghilangkan seluruh hasrat seksual, melainkan membantu seseorang mengelola dorongan secara sehat, menjaga keselamatan, menghormati persetujuan orang lain, serta menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik.
Dengan demikian, hiperseksualitas tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan seberapa sering seseorang menginginkan aktivitas seksual. Kemampuan mengendalikan dorongan dan dampaknya terhadap kehidupan menjadi bagian penting dalam menentukan apakah kondisi tersebut memerlukan bantuan medis. (AP)


