JAKARTA, djakartanetwork.com – Industri otomotif Eropa kembali menghadapi tekanan. Schaeffler, perusahaan pemasok komponen otomotif asal Jerman, mengumumkan rencana pengurangan 3.460 tenaga kerja serta penutupan lima fasilitas produksinya di kawasan Eropa.

Kebijakan restrukturisasi tersebut diumumkan pada 3 November 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan menekan biaya operasional dan menyesuaikan kapasitas produksi di tengah perubahan pasar otomotif global.

Schaeffler menyebut melemahnya permintaan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE), adopsi kendaraan listrik (EV) yang berjalan lebih lambat dari perkiraan, serta persaingan industri yang semakin ketat sebagai sejumlah faktor di balik keputusan tersebut.

Dari total pengurangan tenaga kerja, sekitar 2.660 posisi berada di Jerman. Jumlah itu setara dengan sekitar sembilan persen dari total tenaga kerja inti perusahaan di negara tersebut.

Rencana pengurangan karyawan akan menyentuh 16 lokasi operasional di Eropa. Sementara itu, lima fasilitas direncanakan berhenti beroperasi, terdiri dari empat lokasi di Jerman dan satu di Belgia.

Sekitar 50 persen posisi yang terdampak berasal dari sektor produksi, 30 persen dari penelitian dan pengembangan (R&D), sedangkan 20 persen lainnya berasal dari fungsi pendukung perusahaan.

CEO Schaeffler, Klaus Rosenfeld, mengatakan restrukturisasi diperlukan agar perusahaan tetap mampu mengembangkan dan memproduksi komponen otomotif secara kompetitif di Jerman maupun Eropa.

Menurut Rosenfeld, biaya tenaga kerja di Jerman mencapai sekitar 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara Eropa lainnya.

Perusahaan memperkirakan program efisiensi tersebut dapat menghasilkan penghematan sekitar 300 juta euro setiap tahun mulai 2030. Namun, pelaksanaannya juga diperkirakan membutuhkan biaya restrukturisasi satu kali sekitar 480 juta euro.

Sebagian besar langkah pengurangan tenaga kerja dan penyesuaian operasional dijadwalkan berlangsung hingga 2028.

Situasi yang dihadapi Schaeffler memperlihatkan tantangan besar dalam rantai pasok otomotif Eropa. Perubahan teknologi kendaraan, ketidakpastian permintaan, serta tekanan biaya produksi kini memaksa perusahaan pemasok komponen melakukan penyesuaian bisnis agar tetap bertahan di tengah persaingan global. (Jo)