JAKARTA, djakartanetwork.com — Jauh sebelum ilmu kedokteran berkembang dan manusia mampu menjelaskan penyebab penyakit melalui penelitian ilmiah, kematian menjadi salah satu misteri terbesar dalam kehidupan. Di tengah keterbatasan pengetahuan, peradaban kuno membangun kisah tentang dunia bawah, roh, dan makhluk supranatural untuk memahami ancaman yang tak sepenuhnya mereka mengerti.
Mitologi yang berkembang di Mesopotamia hingga Mesir kuno bukan sekadar kumpulan cerita tentang dewa dan makhluk mengerikan. Di dalamnya tersimpan gambaran tentang kecemasan masyarakat terhadap penyakit, kematian, ketidakpastian hidup, serta rapuhnya keteraturan dunia.
Salah satu sosok yang mencerminkan ketakutan tersebut adalah Lamashtu dalam tradisi Mesopotamia. Makhluk supranatural perempuan ini dikenal dalam berbagai teks dan benda ritual sebagai ancaman terhadap ibu hamil serta bayi. Masyarakat kuno menggunakan jimat dan praktik perlindungan untuk menangkal bahaya yang mereka kaitkan dengan sosok tersebut.
Kisah Lamashtu memperlihatkan bagaimana ancaman yang belum dapat dijelaskan secara medis memperoleh bentuk dalam imajinasi keagamaan. Risiko kehamilan dan kematian bayi, yang pada masa itu menjadi persoalan serius, hadir dalam cerita tentang kekuatan tak kasatmata yang dianggap dapat mencelakakan manusia.
Namun, kepercayaan tersebut tidak dapat disamakan dengan pengetahuan medis modern. Lamashtu merupakan bagian dari sistem kepercayaan masyarakat Mesopotamia, bukan penyebab biologis penyakit atau kematian.
Di Mesir kuno, ketakutan terhadap kekacauan alam semesta tercermin dalam sosok Apophis, atau Apep. Ular raksasa ini digambarkan sebagai musuh dewa matahari Ra yang berusaha mengganggu perjalanan matahari dan mengancam keteraturan kosmis.
Dalam pandangan keagamaan Mesir kuno, keteraturan merupakan unsur penting bagi keberlangsungan kehidupan. Pertarungan antara Ra dan Apophis menjadi gambaran simbolis tentang perjuangan mempertahankan tatanan dari ancaman kekacauan.
Berbeda dari gambaran populer mengenai iblis dalam sejumlah tradisi modern, Apophis tidak semata-mata mewakili kejahatan moral. Sosok tersebut lebih dekat dengan personifikasi kekacauan yang harus terus dihadapi agar keteraturan dunia tetap terjaga.
Kisah-kisah seperti ini menunjukkan bahwa mitologi tidak selalu berfungsi untuk menakut-nakuti. Cerita tentang dunia bawah dan kekuatan penghancur juga membantu masyarakat kuno menyusun pemahaman tentang hubungan manusia dengan alam, kehidupan, dan kematian.
Dalam tradisi Mesopotamia, misalnya, Ereshkigal dikenal sebagai penguasa dunia orang mati. Sementara dalam mitologi Yunani, Hades memerintah alam orang mati, dan dalam tradisi Nordik, Hel berkaitan dengan wilayah kematian. Tokoh-tokoh tersebut memiliki kedudukan serta fungsi yang berbeda dan tidak tepat jika semuanya disamakan sebagai dewa kejahatan.
Perbedaan itu memperlihatkan bahwa setiap peradaban mengembangkan gambaran alam kematian sesuai dengan kosmologi, ritual, dan nilai yang hidup di tengah masyarakatnya.
Mitologi juga memiliki hubungan erat dengan praktik budaya. Kisah mengenai dunia orang mati memengaruhi upacara pemakaman, penggunaan benda ritual, doa, serta cara masyarakat memperlakukan jenazah dan mengenang leluhur. Dengan demikian, cerita mitologis bukan hanya hidup dalam teks, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan sosial dan peninggalan arkeologis.
Meski demikian, penafsiran terhadap mitologi perlu memperhatikan konteks sejarahnya. Sebuah makhluk yang dalam satu tradisi dianggap berbahaya belum tentu memiliki makna serupa dalam tradisi lain. Nama, peran, dan simbolnya pun dapat berubah seiring perkembangan kepercayaan masyarakat.
Kini, kisah-kisah tersebut masih menarik perhatian karena menyentuh pertanyaan yang tetap relevan: bagaimana manusia menghadapi sesuatu yang tidak dapat dikendalikan? Ketika pengetahuan memiliki batas, manusia membangun cerita, simbol, dan ritual untuk memberi makna pada pengalaman hidupnya.
Bagi kajian sejarah dan budaya, mitologi kuno bukan bukti bahwa makhluk supranatural benar-benar menyebabkan penyakit atau mengatur kematian. Nilai pentingnya justru terletak pada kemampuannya membuka jendela menuju cara berpikir masyarakat masa lalu.
Di balik sosok ular kosmis atau makhluk yang ditakuti, terdapat jejak manusia yang berusaha memahami dunia. Mereka mungkin tidak memiliki penjelasan ilmiah seperti sekarang, tetapi melalui cerita dan ritual, mereka berusaha menghadapi ketidakpastian serta menjaga harapan akan keberlangsungan hidup. (AY)



