JAKARTA, djakartanetwork.com — Menjelang seperempat abad perjalanan musiknya, MALIQ & D’Essentials menyiapkan babak baru melalui rangkaian karya yang mempertemukan eksplorasi musikal, kolaborasi lintas generasi, dan pengalaman berbeda bagi para pendengar. Single terbaru berjudul Arah Labuh menjadi pembuka menuju album kesepuluh mereka yang dijadwalkan rilis pada 12 November 2026.

 

Menariknya, Arah Labuh lahir ketika proses pengerjaan album hampir rampung. Ide yang muncul pada hari terakhir produksi tersebut kemudian berkembang menjadi lagu yang dipilih sebagai pembuka perjalanan menuju album terbaru mereka.

 

Lagu ini ditulis oleh Widi Puradiredja dan Indah Wisnuwardhana bersama seluruh personel MALIQ & D’Essentials. Melalui Arah Labuh, mereka menyampaikan pesan tentang keberanian melangkah di tengah ketidakpastian, sekaligus menjalani proses pencarian tanpa harus mengetahui seluruh jawaban sejak awal.

 

Namun, langkah baru MALIQ & D’Essentials tidak berhenti pada peluncuran single. Album mendatang juga menghadirkan kolaborasi dengan sejumlah musisi dari latar dan generasi berbeda, yakni Bilal Indrajaya, Perunggu, dan Rhoma Irama.

 

Bagi Angga Puradiredja, pertemuan dengan musisi senior maupun generasi yang lebih muda membuka perspektif baru dalam berkarya. Perbedaan karakter dan pendekatan bermusik menjadi sumber inspirasi untuk terus mengeksplorasi kemungkinan kreatif.

 

Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan panjang tidak harus membuat sebuah grup musik terpaku pada formula yang sama. Pengalaman menjadi fondasi, sementara keterbukaan terhadap gagasan baru memberi ruang bagi lahirnya karya yang lebih beragam.

 

Memperluas Pengalaman Bermusik

 

Selain menyiapkan album, MALIQ & D’Essentials juga akan menggelar Kabar Gembira Exhibition di ASHTA District 8, Jakarta, pada 29 Oktober hingga 15 November 2026. Pameran ini menjadi bagian dari rangkaian menuju album baru sekaligus membuka kesempatan bagi penggemar untuk mengenal lebih jauh perjalanan kreatif mereka.

 

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa perayaan perjalanan bermusik dapat disampaikan melalui berbagai medium. Musik menjadi titik awal, sementara pameran menghadirkan ruang untuk mengeksplorasi cerita dan proses kreatif di balik karya-karya yang dihasilkan.

 

Di tengah perubahan selera pendengar dan perkembangan industri musik, pendekatan semacam ini menjadi salah satu cara untuk menawarkan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar mendengarkan lagu. Tantangannya adalah menjaga agar setiap eksperimen tetap memiliki hubungan dengan identitas musikal yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

 

Menjelang usia 25 tahun, MALIQ & D’Essentials tidak hanya menengok perjalanan yang telah dilalui. Melalui Arah Labuh, album kesepuluh, dan pameran yang menyertainya, mereka justru membuka ruang untuk terus bergerak dan menemukan kemungkinan baru.

 

Sebab, bagi sebuah perjalanan kreatif, pengalaman panjang bukan alasan untuk berhenti mencari. Justru dari perjalanan itulah, arah baru dapat ditemukan. (SH/Ist)